Wednesday, December 30, 2009

Selamat Jalan...

28 Desember 2009, 01.20 dini hari.
Serasa mimpi buruk, terdengar kabar kepergianmu… Tanpa iringan melodi menyayat hati atau gelegar petir, kabar itu terdengar seperti kabar biasa lainnya. Hanya saja tiba-tiba dadaku sesak. Otakku seakan berhenti berfikir sesaat.
Kekosongan yang amat sangat menjalar…

Aku mengenalnya ketika berumur 4 tahun lebih sedikit. Setelah itu, otakku dijejali dengan idelaisme, nasionalisme, dan marhaenisme… Aku dipaksa memikirkan nasib orang lain saat memikirkan diriku sendiri pun aku belum mampu. Aku harus mencoba membayangkan memikul penderitaan orang lain padahal aku belum kuat…
Aku masih kecil kala itu…
Kini mataku mulai terbuka. Semua ajaranmu yang ku telan penuh sesak, ku jalankan. Ku laksanakan meski tertatih. Karena semuanya begitu penuh godaan, penuh cobaan. Bagaimana mungkin aku jadi seorang marhaenis jika tanah pun aku tak milikinya? Lalu bagaimana aku jadi seorang Nasionalis? Atau idealisme mana yang akan aku perjuangkan jika kini pun aku gamang atas idealismeku sendiri? Aku gamang…
Beberapa tahun berlalu tanpanya…
Kini tanpa aku mengenggam tangannya, tanpa aku mengusap peluhnya, Dia pergi. Pergi yang tak kan pernah kembali.
Ya… Dia pergi!!!
Selamat jalan guru…
Selamat jalan Bapak ku…
Kau pasti Baik-baik saja di sisi-Nya...

1 komentar:

Kang Mpeb said...

Bapak eva meninggal nya..? Turut berduka cita, semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT.

Febby Fajrurrahman