Monday, April 13, 2009

Aku Rumput Liar itu

Aku adalah rumput liar. Dengan kehendak tuhan semata aku berada dalam dunia ini. Dunia yang asing. Dunia yang benar-benar asing bagiku.
Tuhan rupanya ingin mengujiku. Hingga diutuslah aku ke dunia ini. Di sini, di depan mataku, kulihat pohon-pohon tinggi menjulang seperti hendak menusuk langit. Ahk… mungkin mata yang salah, karena aku begitu di bawah. Ku ingatkan, aku rumput liar, yang biasanya mungkin kalian injak. Aku begitu di bawah, hingga mungkin melihat pohon kedelai saja terlihat begitu tinggi. Hahaha…


Setelah lama kuliat, ku ukur (dengan sebatas kemampuan ku), rupa-rupanya pohon pohon laksana menghujam langit itu adalah hutan! Hutan lebat (lagi-lagi sesuai mata dan filling). Hutan yang sepertinya memiliki jenis baru dan belum ada buku atau keterangan mnegenainya. Ya… namanya saja hutan baru! Terlebih aku ada di dunia yang asing!
Sebagai bocoran, di surga sebelum aku dicemplungkan aku diberi gambaran, bahwa dunia baru yang di depan mataku adalah hutan ini banyak mahluk-mahluk buasnya! Jalan di dalamnya penuh liku dan jebakan. Banyak pula jurang godaan! Tuhan… Tuhan… rupanya Kau memang sedang mengujiku.
Aku masuk hutan. Perlahan. Meraba-raba dalam gelap.
Hitungan detik, aku sudah merasai disekelilingku mata-mata tajam menyorot. Mencari tau siapa gerangan aku!? Wajar jika mereka, mahluk sebelumku itu mencari tahu, karna aku mungkin berbeda. Aku bukan jenis pohon, aku hanya rumput liar. Rumput liar yang sedang di uji Tuhan masuk dalam hutan.
Pandangan pertama memasuki hutan ini, aku begitu perpesona. Begitu banyak tunas pohon muda. Segar dan kuat, juga indah dalam bentuknya. Wau… tak menyesal aku Kau utus Tuhan… Namun kekaguman itu tak bertahan lama. Sayangnya aku yang selalu haus ini menginginkan lebih dari sekadar kekaguman sesaat yang semu (waduh… Sudah sesaat semu pula! Hehe…). Aku ingin dipuaskan! Aku ingin diberi pemandangan indah, segar, dan tentunya menyehatkan dari hutan ini. Aku ingin dadaku diisi oksigen yang benar-benar bersih, segar! Sesegar embun pagi hari, seperti embun di surgaku sebelum Tuhan memberi ujian tentang hutan ini.
Pandangan kedua ku melihat hutan ini, aku mulai bosan. Setelah mengenal sedikit, ternyata ku temukan banyak sekali kesamaan jenis pohon di hutan ini. Tidak terlalu variatif, membuat mataku cepat pegal. Dan karenanya, aku agak sulit tumbuh. Ahk…. Padahal banyak pohon muda segar-segar.
Pandangan ketiga, kini aku mulai terbiasa. Lebih tepat jika dikatakan membiasakan, ya.. Agak kikuk aku membiasakan diri dengan hutan ini. Hutan yang baru aku pelajari setelah ada di dalamnya. Huf… sekedar kuingtakan, aku hanya rumput liar, maka lumayan sulit bagitu mengenal hutan ini. Terlebih jika teringat bisikan Mentari, bahwa aku memiliki misi di Hutan ini. Misi yang kelak aku temukan sendiri.
Oh ya… aku lupa. Sesaat sebelum aku masuk hutan, Matahari mengingatkanku. Ia yang selama ini memberi pencerahan dan kehangatan berkata bahwa setelah aku mausk hutan ini, kau akan sangat sangat sulit keluar. Karena di sana gelap, dan cahaya matahari hanya menembus celah-celah dedauan lebat hutan. Daun-daun yang bagaikan selimut, menutup Hutan rapat-rapat. Hanya pohon yang tinggi lah yang memiliki akses menerima siraman cahayanya! Karena itu, ujar mahahari lagi, aku harus pintar-pinrat melihat dalam gelap. Aku pun dinasehati agar waspada! Waspada akan penghuni hutan lainnya. Meski pada sesama rumput! Gelap, dan Waspada (hi… Serem banget ya kesannya). Belum lengkap menasehatiku (lebih tepatnya menakutiku) Matahari pun member bocoran, katanya aku di utus Tuhan ke Hutan untuk satu misi. Misi yang akan kuketahuai sendiri. Masuk hutan ayng tak kukenal saja sudah membuatku merinding, di tambah “nasehat” Matahari, tambah dag.. dig..dug..
Baru Sesaat otak ku sudah mulai beku. Aku makin susah berfikir jernih. Oh Matahari… Aku buntu. Beri aku pencerahanmu. Bantu aku berjalan, bertahan, dan tumbuh di hutan ini. Jang lupa juga pakai cara apapun untuk menegurku, mengingatkanku.. Please….

0 komentar: